SELAMAT DATANG DI BLOG ICU ICCU RSUD KEBUMEN. TERIMA KASIH

Rabu, 09 Februari 2011

BEDSIDE TEACHING

BEDSIDE TEACHING


Para pakar pendidikan klinik memberikan sebuah panduan dalam pengajaran dan pembelajaran dalam pendidikan klinik yang dikenal “BEDSIDE”. 
BEDSIDE merupakan singkatan dari Briefing, Expecttion, Demonstration, Specific, Feedback, Inclutoin Microskill, Debriefing and Education. 
BEDSIDE ini dikembangkan dari teori experience and explanation cycles yang dikemukakankan oleh Cox, 1993.
Briefing meliputi kegiatan menyiapkan mahasiswa Koas tentang syarat pengetahuan yang harus dimiliki sebelum BST dan juga mempersiapkan pasien untuk BST.
Expectation adalah menentukan tujuan belajar yang ingin dicapai oleh mahasiswa.
Demonstrations tergantung tujuan yang ingin dicapai yaitu bila dosen ingin mengamati dan memberi feedback atas kegiatan mahasiswa maka dosen harus meminimalkan interupsi dan bila tujuannya sebagai model maka mahasiswa diberi kesempatan mengamati dosen dalam memeriksa pasien.
Spesific Feedback diawali dengan positif aspek sehingga akan memotivasi mahasiswa untuk belajar.
Inclution microskill merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh dosen klinik sehingga BST menjadi efektif dan efisien.
Debriefing meliputi menanyakan masukan dari mahasiswa dan pasien.
Education meliputi memberitahu sumber belajar yang digunakan mahasiswa belajar lebih lanjut dan dalam.
Neher, Gordon, Meyer dan Stevens mengemukakan sebuah model pengajaran di kontek klinik yang mereka beri nama The Five Steps Microskill. Model ini dapat diterapkan dalam pendidikan klinik di unit rawat jalan (poliklinik) dan di bangsal. Penerapan model ini di pendidikan klinik rawat jalan sangat efektif karena dengan waktu yang sangat terbatas (3-5 menit),
Preceptor dapat mengajarkan pengetahuan dan ketrampilan klinik dengan menggunakan pasien yang sebenarnya. Model ini juga dapat diterapkan pada BST di bangsal. Seperti yang sudah diketahui , bangsal ditempati oleh pasien dengan bermacam kasus penyakit. Contohnya Jumlah pasien di Bangsal penyakit saraf pada waktu penulis mengamati ada sekitar dua puluh pasien dengan bermacam variasi penyakit.
Apabila model ini diterapkan pada 20 orang pasien maka di butuhkan waktu sekitar 60 menit sampai 100 menit yang mana masih dalam rentang waktu BST yang selama ini telah diterapkan. Penerapan model ini tentu saja menguntungkan dalam pendidikan klinik selain dapat mengatasi keterbatasan waktu juga dapat mengajarkan pendidikan klinik secara efektif.
Langkah-langkah dalam model The Five Steps Microskill adalah sebagai berikut :
1.     Step 1. Tanyakan Komitmen mahasiswa
Petunjuk : Setelah mahasiswa mempresentasikan sebuah kasus, ia akan menunggu respon dari dosen atau bertanya mengenai petunjuk untuk kasus ini.
Preceptor : Preceptor meminta mahasiswa untuk menyatakan masalah yang ada dalam kasus yang dipresentasikan dapat dalam bentuk hipotesis diagnosis atau rencana manajemen pengobatan.
Rasional : Meminta mahasiswa untuk menginterpretasikan data merupakan langkah awal dalam menentukan kebutuhan belajar mereka dan prior knowledge yang telah mereka miliki. Contoh : “Apa diagnosis pasien ini?”
2.    Step 2. Mengali bukti-bukti yang mendukung
Petunjuk : Ketika mendiskusikan suatu kasus, mahasiswa memiliki komitmen terhadap masalah yang dikemukakan dan menantikan respon dosen untuk mengkonfirmasikan pendapat mereka.
Preceptor : Sebelum memberikan arahan , mintalah mahasiswa untuk memberikan bukti yang mendukung pendapat mahasiswa tersebut.
Rasional : Mintalah mahasiswa untuk mengungkapkan proses berpikir mereka sehingga dosen dapat mengidentifikasi apa yang mahasiswa tahu dan yang belum tahu. Contoh : “Penemuan utama apa yang mendasari diagnosis anda?”
3.    Step 3. Katakan apa yang mahasiswa sudah lakukan dengan benar
Petunjuk : Pelajar telah menangani suatu kasus secara sangat efektif yang hasilnya membantu preceptor, pasien atau rumah sakit. Mahasiswa tidak menyadari bahwa yang telah dilakukannya efektif dan memiliki dampak yang positif.
Preceptor : Berilah komentar kepada mahasiswa bahwa ia sudah melakukan hal yang benar dan membawa dampak positif.
Contoh : “Anda telah mempertimbangkan kemampuan pasien dalam memilih obat. Kepekaan Anda telah membantu pasien dalam mengatasi masalahnya”
4.    Step 4. Perbaiki yang masih salah
Petunjuk : Pekerjaan mahasiswa telah mempertunjukkan kekeliruan, kesalahan atau penyimpangan.
Preceptor : Segera mungkin setelah kekeliruan, temukan waktu dan tempat yang sesuai untuk mendiskusikan apa yang salah dan bagaimana cara menghindari atau mengoreksi kesalahan di masa datang. Pertama kali berilah kesempatan pelajar untuk mengkritik hasil kerja mereka.
Rasional : kesalahan mahasiswa yang tidak diberitahu oleh preceptor akan memiliki kesempatan untuk diulangi. Dengan mendiskusikan apa yang salah pada hasil kerja mahasiswa akan menghindari kesalahan ini di masa yang akan dating.
Contoh : “Anda benar bahwa gejala yang ada mengarah kepada infeksi saluran napas bagian atas karena virus. Tetapi anda tidak bisa memastikan bahwa ia bukan otitis media sebelum Anda melakukan pemeriksaan fisik pada telinga pasien”
5.    Step 5. Mengajarkan konsep/kaidah umum
Petunjuk : Preceptor memastikan bahwa ia mengetahui seputar kasus yang dipresentasikan mahasiswa.
Preceptor : Ajarkan prinsip umum, konsep.
Rasional : Instruksi lebih mudah diingat dan diterima bila diberi dalam bentuk kaidah umum, prinsip atau perumpamaan.
Contoh : “Jika pasien baru mengalami selulitis, insisi dan drainase belum bisa dilakukan. Anda harus menunggu sampai daerahnya menjadi fluktuasi sehingga bisa di drainase.
”Irby et al membandingkan model The Five Steps Microskill dengan model tradisional dalam pendidikan klinik menemukan bahwa model The Five Steps Microskill memperlihatkan adanya penekanan pada kebutuhan belajar mahasiswa dan partisipasi mereka dalam menentukan keputusan masalah klinik yang mana hal-hal ini sangat kurang atau bahkan tidak terlihat dalam pendidikan klinik dengan model tradisional.

KESIMPULAN
The Five Steps Microskill merupakan salah satu model pendidikan klinik yang terdiri dari beberapa langkah yaitu tanyakan komitmen mahasiswa, menggali bukti-bukti yang mendukung, katakan apa yang mahasiswa sudah lakukan dengan benar, perbaiki yang masih salah dan mengajarkan konsep/kaidah umum.
Model ini menekankan tidak hanya pada proses pengajaran pengetahuan dan ketrampilan klinik oleh Preceptor tetapi juga menekankan pada pentingnya mengidentifikasi prior knowledge mahasiswa, memberikan kesempatan untuk membuat keputusan sendiri, melatih clinical reasoning, pentingnya constructive feedback dan mendiagnosis kebutuhan belajar mahasiswa.
Model ini dapat diterapkan dalam lingkungan pendidikan klinik di rawat jalan dan bangsal yang membutuhkan waktu antara 3-5 menit untuk satu kasus. Oleh karena itu penerapan model ini di pendidikan klinik merupakan suatu model pendidikan klinik yang sangat potensial untuk diterapkan khususnya pada setting pendidikan klinik dengan keterbatasan waktu.


PUSTAKA

Irby, D. (1999). Five Microskills for Clinical Teaching. [Internet]. Available from: <> [Accessed 30 March 2007].

Amin Z, Eng KH. Basics in Medical Education. Singapore: World Scientific Publishing, 2003.

Dent JA, Harden RM, Editors. A Practical Guide For Medical Teachers. Elsevier Churchill Livingstone, 2006.

http://www.ucimc.netouch.com .Bedside Teaching. [Internet]. Available from: <http://www.ucimc.netouch.com/inventory/group/residents/6/best%20curriculum%20bedside%20teaching.pdf.> [Accessed 30 March 2007]

Raskind, HS. (2001) The One-Minute Preceptor. [Internet]. Available from: < articleid=”98″> [Accessed 30 March 2007].

Sarkin, R. The One Minute Preceptor Microskills of Clinical Teaching. [Internet] .Available from: http://www.im.org/facdev/gimfd/ProjectMaterial/MeetingPresentFiles/
Strategies%20Tampa%20Sarkin.htm> [Accessed 30 March 2007].

Polotsky, H & Metalios, E. Teaching Teachers To Teach. [Internet]. Available from: <http://www.aecom.yu.edu/home/GME/TEACHING_sylllabus.doc.> [Accessed 30 March 2007].

Parrott, S., Dobbie, A et al. (2006) Evidence-based Of.ce Teaching—The Five-step
Microskills Model of Clinical Teaching. [Internet] March, 2006 38 (3). Available from: < http://www.stfm.org/fmhub/fm2006/March/Sarah164.pdf.> [Accessed 30 March 2007].

Bensinger, L., Meah, Y.,Simon, T. Teaching Skills For Residents. [Internet]. Available from: <http://www.ucimc.netouch.com/Others/MountSinai/Handout%20for%20Residents%20RTDP.pdf.> [Accessed 30 March 2007

Selasa, 08 Februari 2011

ANALISA GAS DARAH (AGD)

ANALISA GAS DARAH
(AGD)


1.     DEFINISI

Gas darah arteri memungkinkan untuk pengukuran pH (dan juga keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarbonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnosa hanya dari penilaian analisa gas darah dan keseimbangan asam basa saja, kita harus menghubungkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan data-data laboratorium lainnya.
Pada dasarnya pH atau derajat keasaman darah tergantung pada konsentrasi ion H+ dan dapat dipertahankan dalam batas normal melalui 3 faktor, yaitu:
A.   Mekanisme dapar kimia
Terdapat 4 macam dapar kimia dalam tubuh, yaitu:
1.     Sistem dapar bikarbonat-asam karbonat
2.    Sistem dapar fosfat
3.    Sistem dapar protein
4.    Sistem dapar hemoglobin
B.    Mekanisme pernafasan
C.    Mekanisme ginjal
Mekanismenya terdiri dari:
1.     Reabsorpsi  ion HCO3-
2.    Asidifikasi dari garam-garam dapar
3.    Sekresi ammonia

  1. GANGGUAN ASAM BASA SEDERHANA
Gangguan asam basa primer dan kompensasinya dapat diperlihatkan dengan memakai persamaan yang dikenal dengan persamaan Henderson-Hasselbach.
Persamaan ini menekankan bahwa perbandingan asam dan basa harus 20:1 agar pH dapat dipertahankan dalam batas normal. Persamaan ini juga menekankan kemampuan ginjal untuk mengubah bikarbonat basa melalui proses metabolik, dan kemampuan paru untuk mengubah PaCO2  (tekanan parsial CO2 dalam darah arteri) melalui respirasi. Nilai normal pH adalah 7, 35- 7,45. berikut ini adalah gambaran rentang pH:
Perubahan satu atau dua komponen tersebut menyebabkan gangguan asam dan basa. Penilaian keadaan asam dan basa berdasarkan hasil analisa gas darah membutuhkan pendekatan yang sistematis. Penurunan keasaman (pH) darah < 7,35 disebut asidosis, sedangkan peningkatan keasaman (pH) > 7,45  disebut alkalosis.
Jika gangguan asam basa terutama disebabkan oleh komponen respirasi (pCO2) maka disebut asidosis/alkalosis respiratorik, sedangkan bila gangguannya disebabkan oleh komponen HCO3 maka disebut asidosis/alkalosis metabolik. Disebut gangguan sederhana bila gangguan tersebut hanya melibatkan satu komponen saja (respirasi atau metabolik), sedangkan bila melibatkan keduanya (respirasi dan metabolik) disebut gangguan asam basa campuran.
1.     LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENILAI GAS DARAH:
a.    Pertama-tama perhatikan pH (jika menurun klien mengalami asidemia, dengan dua sebab asidosis metabolik atau asidosis respiratorik; jika meningkat klien mengalami alkalemia dengan dua sebab alkalosis metabolik atau alkalosis respiratorik; ingatlah bahwa kompensasi ginjal dan pernafasan jarang memulihkan pH kembali normal, sehingga jika ditemukan pH yang normal meskipun ada perubahan dalam PaCO2 dan HCO3 mungkin ada gangguan campuran)
b.    Perhatikan variable pernafasan (PaCO2 ) dan metabolik (HCO3) yang berhubungan dengan pH untuk mencoba mengetahui apakah gangguan primer bersifat respiratorik, metabolik atau campuran (PaCO2 normal, meningkat atau menurun; HCO3 normal, meningkat atau menurun; pada gangguan asam basa sederhana, PaCO2 dan HCO3 selalu berubah dalam arah yang sama; penyimpangan dari HCOdan PaCO2 dalam arah yang berlawanan menunjukkan adanya gangguan asam basa campuran).
c.    Langkah berikutnya mencakup menentukan apakah kompensasi telah terjadi (hal ini dilakukan dengan melihat nilai selain gangguan primer, jika nilai bergerak yang sama dengan nilai primer, kompensasi sedang berjalan).
d.    Buat penafsiran tahap akhir (gangguan asam basa sederhana, gangguan asam basa campuran)




2.    RENTANG NILAI NORMAL
pH                    : 7, 35-7, 45            
TCO2                : 23-27 mmol/L
PCO2                 : 35-45 mmHg                                      
BE                    : 0 ± 2 mEq/L
PO2                   : 80-100 mmHg                                  
saturasi O2       : 95 % atau lebih
HCO3                : 22-26 mEq/L


TABEL GANGGUAN ASAM BASA:





3.     KLASIFIKASI GANGGUAN ASAM BASA PRIMER DAN TERKOMPENSASI:
1.     Normal bila tekanan CO2 40 mmHg dan pH 7,4. Jumlah CO2 yang diproduksi dapat dikeluarkan melalui ventilasi.
2.    Alkalosis respiratorik. Bila tekanan CO2 kurang dari 30 mmHg dan perubahan pH, seluruhnya tergantung pada penurunan tekanan CO2 di mana mekanisme kompensasi ginjal belum terlibat, dan perubahan ventilasi baru terjadi. Bikarbonat dan base excess dalam batas normal karena ginjal belum cukup waktu untuk melakukan kompensasi. Kesakitan dan kelelahan merupakan penyebab terbanyak terjadinya alkalosis respiratorik pada anak sakit kritis.
3.    Asidosis respiratorik. Peningkatan tekanan CO2 lebih dari normal akibat hipoventilasi dan dikatakan akut bila peninggian tekanan CO2 disertai penurunan pH. Misalnya, pada intoksikasi obat, blokade neuromuskuler, atau gangguan SSP. Dikatakan kronis bila ventilasi yang tidak adekuat disertai dengan nilai pH dalam batas normal, seperti pada bronkopulmonari displasia, penyakit neuromuskuler, dan gangguan elektrolit berat.
4.    Asidosis metabolik yang tak terkompensasi. Tekanan CO2 dalam batas normal dan pH di bawah 7,30. Merupakan keadaan kritis yang memerlukan intervensi dengan perbaikan ventilasi dan koreksi dengan bikarbonat.
5.    Asidosis metabolik terkompensasi. Tekanan CO2 < 30 mmHg dan pH 7,30--7,40. Asidosis metabolik telah terkompensasi dengan perbaikan ventilasi.
6.    Alkalosis metabolik tak terkompensasi. Sistem ventilasi gagal melakukan kompensasi terhadap alkalosis metabolik ditandai dengan tekanan CO2 dalam batas normal dan pH lebih dari 7,50 misalnya pasien stenosis pilorik dengan muntah lama.
7.    Alkalosis metabolik terkompensasi sebagian. Ventilasi yang tidak adekuat serta pH lebih dari 7,50.
8.    Hipoksemia yang tidak terkoreksi. Tekanan oksigen kurang dari 60 mmHg walau telah diberikan oksigen yang adekuat
9.    Hipoksemia terkoreksi. Pemberian O2 dapat mengoreksi hipoksemia yang ada sehingga normal.
10. Hipoksemia dengan koreksi berlebihan. Jika pemberian oksigen dapat meningkatkan tekanan oksigen melebihi normal. Keadaan ini berbahaya pada bayi karena dapat menimbulkan retinopati of prematurity, peningkatan aliran darah paru, atau keracunan oksigen. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan yang lain seperti konsumsi dan distribusi oksigen.

4.    TUJUAN
a.    Menilai tingkat keseimbangan asam dan basa
b.    Mengetahui kondisi fungsi pernafasan dan kardiovaskuler
c.    Menilai kondisi fungsi metabolisme tubuh

5.    INDIKASI
a.    Pasien dengan penyakit obstruksi paru kronik
b.    Pasien deangan edema pulmo
c.    Pasien akut respiratori distress sindrom (ARDS)
d.    Infark miokard
e.    Pneumonia
f.    Klien syok
g.    Post pembedahan coronary arteri baypass
h.    Resusitasi cardiac arrest
i.     Klien dengan perubahan status respiratori
j.     Anestesi yang terlalu lama

6.    LOKASI PUNGSI ARTERI
a.    Arteri radialis dan arteri ulnaris (sebelumnya dilakukan allen’s test)
b.    Arteri brakialis
c.    Arteri femoralis
d.    Arteri tibialis posterior
e.    Arteri dorsalis pedis
Arteri femoralis atau brakialis sebaiknya tidak digunakan jika masih ada alternatif lain, karena tidak mempunyai sirkulasi kolateral yang cukup untuk mengatasi bila terjadi spasme atau trombosis. Sedangkan arteri temporalis atau axillaris sebaiknya tidak digunakan karena adanya risiko emboli otak.
Cara allen’s test:
Minta klien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung pada arteri radialis dan ulnaris, minta klien untuk membuka tangannya, lepaskan tekanan pada arteri, observasi warna jari-jari, ibu jari dan tangan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15 detik, warna merah menunjukkan test allen’s positif. Apabila tekanan dilepas, tangan tetap pucat, menunjukkan test allen’s negatif. Jika pemeriksaan negatif, hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan yang lain.

7.    KOMPLIKASI
Apabila jarum sampai menebus periosteum tulang akan menimbulkan nyeri
a.    Perdarahan
b.    Cidera syaraf
c.    Spasme arteri

8.    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMERIKSAAN AGD
a.    Gelembung udara
Tekanan oksigen udara adalah 158 mmHg. Jika terdapat udara dalam sampel darah maka ia cenderung menyamakan tekanan sehingga bila tekanan oksigen sampel darah kurang dari 158 mmHg, maka hasilnya akan meningkat.
b.    Antikoagulan
Antikoagulan dapat mendilusi konsentrasi gas darah dalam tabung. Pemberian heparin yang berlebihan akan menurunkan tekanan CO2, sedangkan pH tidak terpengaruh karena efek penurunan CO2 terhadap pH dihambat oleh keasaman heparin.
c.    Metabolisme
Sampel darah masih merupakan jaringan yang hidup. Sebagai jaringan hidup, ia membutuhkan oksigen dan menghasilkan CO2. Oleh karena itu, sebaiknya sampel diperiksa dalam 20 menit setelah pengambilan. Jika sampel tidak langsung diperiksa, dapat disimpan dalam kamar pendingin beberapa jam.
d.     Suhu
Ada hubungan langsung antara suhu dan tekanan yang menyebabkan tingginya PO2 dan PCO2. Nilai pH akan mengikuti perubahan PCO2.
Nilai pH darah yang abnormal disebut asidosis atau alkalosis sedangkan nilai PCO2 yang abnormal terjadi pada keadaan hipo atau hiperventilasi. Hubungan antara tekanan dan saturasi oksigen merupakan faktor yang penting pada nilai oksigenasi darah

9.    HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
a.    Tindakan pungsi arteri harus dilakukan oleh perawat yang sudah terlatih
b.    Spuit yang digunakan untuk mengambil darah sebelumnya diberi heparin untuk mencegah darah membeku
c.    Kaji ambang nyeri klien, apabila klien tidak mampu menoleransi nyeri, berikan anestesi lokal
d.    Bila menggunakan arteri radialis, lakukan test allent untuk mengetahui  kepatenan arteri
e.    Untuk memastikan apakah yang keluar darah vena atau darah arteri, lihat darah yang keluar, apabila keluar sendiri tanpa kita tarik berarti darah  arteri
f.    Apabila darah sudah berhasil diambil, goyangkan spuit sehingga darah tercampur rata dan tidak membeku
g.    Lakukan penekanan yang lama pada bekas area insersi (aliran arteri lebih deras daripada vena)
h.    Keluarkan  udara dari spuit jika sudah berhasil mengambil darah dan tutup ujung jarum dengan karet atau gabus
i.     Ukur tanda vital (terutama suhu) sebelum darah diambil
j.     Segera kirim ke laboratorium ( sito )

10. PERSIAPAN PASIEN
a.    Jelaskan prosedur dan tujuan dari tindakan yang dilakukan
b.    Jelaskan bahwa dalam prosedur pengambilan akan menimbulkan rasa sakit
c.    Jelaskan komplikasi yang mungkin timbul
d.    Jelaskan tentang allen’s test

11.  PERSIAPAN ALAT
a.    Spuit  2 ml atau 3ml  dengan jarum ukuran 22 atau 25 (untuk anak-anak) dan nomor 20 atau 21 untuk dewasa
b.    Heparin
c.    Yodium-povidin
d.    Penutup jarum (gabus atau karet)
e.    Kasa steril
f.    Kapas alkohol
g.    Plester dan gunting
h.    Pengalas
i.     Handuk kecil
j.     Sarung tangan sekali pakai
k.    Obat anestesi lokal jika dibutuhkan
l.      Wadah berisi es
m.   Kertas label untuk nama
n.    Thermometer
o.    Bengkok

Senin, 07 Februari 2011

PEMBERIAN STREPTASE

PEMBERIAN STREPTASE


Manifestasi klinik penderita SKA dapat berupa : Angina Pektoris tidak Stabil (APTS), Infark Miokard tanpa gelombang Q (Non Q MI) dan Infark Miokard Gelombang Q (Q MI). Presentasi EKG meliputi : elevasi segment ST infark, depresi segmen ST dan gelombang T atau EKG normal. Penderita dengan elevasi segmen ST sebagian besar akan menjadi Q MI. Penderita dengan depresi segment SST akan berkembang menjadi APTS dan Non QMI atau Non ST Elevasi Infark Miokard (NSTEMI).
Tujuan obyektif pengobatan  SKA adalah menstabilkan plak. Pada IMA elevasi gelombang ST, obyektif pengobatan dalam menit sampai jam-jam pertama adalah membukaa arteri sehingga terjaadi reperfusi. Pada pasien APTS dan IMA non elevasi segmen ST, sasaran pengobatan adalah menstabilkan atau mem”pasif”kan lesi trombolitik yang aktif dalam periode beberapa jam sampai beberapa hari. Kemudian setelah dalam periode beberapa bulan sampai beberapa tahun, sasarannya adalah menyembuhkan lesi dengan menghindari faktor resiko dan pengobatan hiperkolesterolemia, hipertensi dan diabetes serta berhenti merokok, sebagai usaha mengurangi terjadinya rupture plak koroner.
Infark Miokard Akut (IMA), adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu.
Segera setelah terjadi IMA, daerah miokard setempat akan memperlihatkan penonjolan sistolik (Diskenesia) dengan akibat penurunan ejection fraction, isi sekuncup (SV) dan peningkatan volume akhir sistolik dan diastolic ventrikel kiri.
Keluhan yang khas ialah nyeri dada retrosternal, seperti diremas-remas, ditekan, ditusuk, panas, atau ditindih benda berat. Nyeri dapat menjalar ke lengan (umumnya) kiri, bahu, leher, rahang bahkan ke punggung dan epigastrium. Takikardi, kulit yang pucat, dingin, dan hipotensi ditemukan pada kasus yang relatif lebih berat.
Pada IMA dengan gelombang Q mula-mula terjadi elevasi segmen ST yang konveks pada hantaran yang mencerminkan daerah IMA.
Pada IMA non Q tidak ada gelombang Q patologis, hanya dijumpai depresi segmen ST dan inversi simetrik gelombang T.
Peningkatan kadar enzym atau isoenzym merupakan indikator spesifik IMA. Paa IMA, enzym-enzym intrasel ini dikeluarkan ke dalam aliran darah. Kadar  total enzym-enzym ini mencerminkan luas IMA.
Pengobatan dengan obat trombolitik sebagai salah satu usaha reperfusi (Streptase, rt-PA, APSAC) harus sudah dimulai dalam waktu 30 menit sejak pasien mulai diperiksa. Pengobatan trombolitik memberi hasil yang baik bila diberikan dalam jangka waktu 6 jam pertama setelah serangan. Streptase bisa diberikan intrakoroner, tetapi yang lebih luas pemakaiannya adalah intravena.

Minggu, 06 Februari 2011

Keluarga Besar ICU-ICCU dalam Silaturahmi di Sitibentar MIRIT ... 2010

AIR

AIR

Komponen tunggal terbesar dari tubuh adalah air. Air tubuh total (TBW total body water) yaitu presentase dari berat air dibanding dengan berat badan total. TBW ini bervariasi menurut jenis kelamin, berat badan, umur dan kandungan lemak tubuh. Air membentuk sekitar 60% dari berat badan pria dewasa. Semakin tinggi kandungan lemak tubuh semakit sedikit kandungan air tubuh, karena lemak bebas air. Pada wanita dewasa kandungan lemak tinggi, air yang membentuknya sekitar 50% dari berat badan. Pada bayi baru lahir, air membentuknya sekitar 75% dari berat badannya.

Kompartemen-Kompartemen Cairan Tubuh

Seluruh cairan tubuh didistribusikan di antara dua kompartemen utama yaitu: cairan ekstraseluler dan cairan intraseluler. Kemudian cairan ekstraseluler di bagi lagi menjadi cairan intersisial dan cairan plasma (intravaskular). Ada juga kompartemen cairan yang kecil yang disebut cairan transeluler, meliputi cairan sinoval, peritonium, perikardial, intraokuler dan cairan serebrospinal. Biasanya dipertimbangkan sebagai cairan ektraseluler. Cairan intraseluler mengandung 40% dari berat badan total pria dewasa. 20% cairan menempati kompartemen ekstraseluler, 15% nya menempati intersisial dan 5% cairan plasma. Cairan transeluler sekitar 1% dari beran badan total.

Jumat, 04 Februari 2011

PENATALAKSANAAN SINDROM KORONER AKUT (SKA)

PENATALAKSANAAN SINDROM KORONER AKUT (SKA)


Penatalaksanaan penderita dengan nyeri dada masih merupakan suatu
pekerjaan yang memerlukan perhatian khusus, mengingat tidak semua keluhan
tersebut menunjukkan gejala yang khas. Keluhan nyeri dada seringkali
dikonotasikan dengan serangan jantung, walaupun mungkin ada benarnya tetapi
harus diingat bahwa lebih dari 40% nyeri dada tersebut bukan merupakan
serangan jantung / SKA. Sebaliknya jumlah penderita yang dipulangkan karena
didiagnosa bukan SKA, kira-kira 10% dengan segala resiko yang harus diderita
pasien. Diperlukan pengetahuan untuk triage bagi penderita dengan sakit dada
apakah mereka termasuk ke dalam kategori SKA atau bukan.